Selasa, 29 April 2014
PANDUAN MP-ASI dengan Adaptasi Pola FC
Berdasarkan kaidah pola FC, pakar gizi bayi balita dan juga merupakan salah satu pelaku FC, Wied Harry memperkenalkan panduan MP-ASI dengan pola adaptasi FC dengan pentahapan jenis makanan yang bisa dikenalkan pada bayi sesuai dengan kesiapan perkembangan organ pencernaan di setiap tahapan usianya.
Usia 6-7 Bulan
Buah
Buah segar menjadi pilihan pertama untuk menu MP-ASI. Berbeda dari nasi dan makanan pokok lainnya, buah segar mengandung karbohidrat (zat tenaga) yang mudah dicerna yaitu gula buah. Kemudahan gula buah dicerna bayi mendekati ASI karena secara alami dilengkapi enzim pencerna. Oleh karena itu, buah digolongkan dalam predigested food atausemidigested food, yaitu makanan yang sudah separuh tercerna. Buah merupakan sumber vitamin C, salah satu jenis vitamin yang penting untuk menjaga sistem kekebalan tubuh bayi. Betakaroten (provitamin A) juga banyak tersimpan dalam buah, terutama buah berwarna merah atau jingga. Vitamin C dan betakaroten termasuk antioksidan kuat yang mempercepat pemulihan gangguan kesehatan pada bayi. Asam lemak omega-3 dalam advocad baik untuk perkembangan otak bayi dan kecerdasannya. Dalam hal ini buah berfungsi sebagai zat pengatur. Disarankan mengkonsumsi buah ketika lambung dalam keadaan kosong agar penyerapan nutrisi optimal, yaitu setelah bangun tidur minimal 30 menit sebelum makan utama atau di antara waktu makan utama.
Pada tahap awal pemberian MP-ASI, dikenalkan jus buah hingga bertahap kekentalannya berupa puree buah; berbeda dengan panduan WHO yang menganjurkan tekstur semi kental sejak awal pemberian mp-asi. Biasanya bayi perlu menyesuaikan diri selama 4-5 hari terhadap jenis makanan yang baru diberikan. Namun dalam milis Gizi Bayi Balita, Pak Wied pun menjelaskan bahwa pengamatan 4-5 hari itu pengamatan maksimal untuk pemberian dan pengenalan 1 jenis makanan baru. Sebenarnya pengenalan cukup dilakukan 2-3 hari untuk setiap 1 jenis makanan baru. Selain untuk menghindari rasa bosan, pengamatan ada tidaknya reaksi alergi (ruam kulit, muntah, diare) terhadap bahan makanan tertentu pada umumnya muncul dalam 24 jam. Walaupun demikian, patokan ini tidak mutlak karena keterampilan makan setiap bayi tidak sama. Berikan buah-buah yang manis dengan tingkat kematangan optimal.
Buah yang dapat diberikan : aneka jeruk manis, apel, pir, semangka merah & kuning, melon hijau & jingga, mangga arumanis/manalagi, jambu biji merah, pepaya, pisang kepok/raja/ambon, belimbing manis, blewah, kesemek.
Untuk awal mp-asi usia 6-7 bulan, pemberian apel dan pir boleh --- bukan berarti harus --- dikukus terlebih dahulu untuk memudahkan penyerapan kandungan gizinya terutama senyawa gula dan serat buahnya. Setelah usia 7 bulan, apel dan pir dapat diberikan dalam keadaan segar tanpa dikukus terlebih dahulu.
Sumber Karbohidrat Kompleks dan Sayuran
Setelah buah-buahan segar, secara bertahap bayi dapat dikenalkan dengan dengan bahan makanan lain, yaitu pati sebagai makanan pokok yang memenuhi fungsi zat tenaga serta serat dari aneka sayuran yang memenuhi fungsi zat pengatur. Jika buah mengandung karbohidrat sederhana yang mudah dicerna,beras dan makanan pokok lainnya mengandung karbohidrat kompleks yang proses pencernaaannya lebih rumit. Sayuran juga mengandung serat, salah satu jenis karbohidrat yang tidak tercerna. Selain menjadi sumber serat, sayuran merupakan pemasok beragam mineral dan vitamin. Sayuran berlimpah zat besi, kalsium dan betakaroten yang merupakan zat-zat gizi yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi. Manfaat utama serat adalah membantu membuang kotoran kaya zat-zat sampah yang bisa membahayakan kesehatan. Asupan sayuran juga menyumbang kecukupan serat yang penting untuk pertumbuhan bakteri-bakteri baik dalam usus bayi. Walaupun serat sayuran penting untuk bayi, sebaiknya sayuran dipilih yang tidak mengandung serat berlebihan. Sayuran diberikan pada bayi setelah dikukus.
Sama seperti makanan pokok, proses pencernaan sumber protein hewani terutama daging sapi dan daging ayam cukup rumit.Pada tahap awal pengenalan nasi dan sayuran, sebaiknya tidak ditambah protein hewani karena pencampuran pati dan protein hewani dapat memberatkan organ pencernaannya.
Sumber karbohidrat yang dapat diberikan berasal dari umbi-umbian dan padi-padian : beras putih, beras merah, beras coklat, beras hitam, kentang, ubi kuning/jingga/ungu, singkong kuning, karbohidrat lainnya seperti sukun.
Sayuran yang dapat diberikan :
- usia 6-7 bulan berupa sayuran umbi berupa wortel, sayuran buah : timun, labu kuning/labu parang, labu kuning jepang/kaboca, labu siam, labu air, jagung manis, tomat merah (dibuang bijinya).
- Memasuki usia 7-8 bulan sayuran yang dapat ditambahkan untuk diberikan adalah sayuran daun berupa bayam, brokoli, kembang kol, daun katuk muda, daun melinjo muda, pucuk daun labu; serta sayuran tunas berupa toge dan dan jamur segar (jamur merang dan jamur kancing). Sayuran berdaun hijau merupakan sumber karbohidrat sehat dan berkalori rendah yang kaya kandungan vitamin C, vitamin K, kalsium, kalium, magnesium dan asam folat.
Sumber Protein Nabati
Jika pada tahap ini Anda menginginkan tambahan protein dalam makanan bayi, Anda bisa menambahkan sumber protein mudah cerna, yaitu polong-polongan (kacang hijau, kacang polong, kacang merah, kacang tolo, kapri, buncis muda) dan hasil olahan kedelai (tempe dan tahu). Protein tempe telah diuraikan oleh kapang (jamur) tempe menjadi asam amino sederhana yang lebih mudah dicerna dan diserap tubuh bayi. Kelebihan lain tempe mengandung zat antidiare. Pilih tahu putih tanpa pewarna, tanpa bahan pengenyal dan masih baru (bayi sangat sensitif terhadap kerusakan tahu yang mengakibatkan diare).
Frekuensi Pemberian MP-ASI
Usia 6-7 bulan
Pada usia 6-7 bulan ASI sesuka bayi, pemberian awal mp-asi 1-2 sdm dewasa bertahap mencapai 3 sdm dewasa berupa jus/puree buah 1 kali dan bubur lembut karbo/sayuran tunggal 1 kali.
Untuk minggu pertama dapat diberikan jus 1x buah dengan tekstur encer, bertahap masuk minggu kedua diberikan 1 kali jus buah dan 1 kali puree buah dengan tekstur semi kental (lebih pekat daripada jus buah), kemudian masuk minggu ketiga diberikan 1 kali puree buah dan 1 kali bubur lembut karbo tunggal/sayuran tunggal.
Usia 7-8 bulan
Pada usia 7-8 bulan berikan ASI sesuka bayi , puree buah 1 kali, bubur lembut karbo-sayuran atau karbo-protein nabati sebanyak 2 kali.
Usia 8 Bulan ke atas
Menginjak usia 8 bulan, organ pencernaan bayi sudah bisa dilatih mencerna makanan yang proses pencernaannya rumit, yaitu protein hewani sebagai zat pembentuk : daging ikan segar baik ikan tawar maupun ikan laut, daging ayam, daging sapi, kuning telur, yoghurt plain, keju. Sumber lemak tambahan sebagai penunjang dapat dikenalkan pada usia 8 bulan ke atas berupa minyak, mentega ataupun santan segar. Telur utuh dapat diberikan pada usia 9 bulan ke atas. Bentuk bubur yang diberikan berupa bubur saring yang lebih bertekstur daripada bubur lembut. Pada usia 9 bulan ke atas memasuki masa peralihan sebelum ke menu makanan keluarga (table food) mulai dikenalkan makanan semi padat/tim padat dengan tekstur cincangan halus.
Frekuensi Pemberian MP-ASI
- Pada usia 8-9 bulan ASI sesuka bayi, puree buah sebanyak 1 kali, bubur lembut karbo-sayur/karbo-protein nabati sebanyak 1 kali, bubur saring karbo-sayur-protein hewani-nabati sebanyak 2 kali
- Pada usia 9-10 bulan ASI sesuka bayi, puree buah sebanyak 1 kali, bubur saring karbo-sayur-protein hewani-nabati sebanyak 1 kali, makanan tim karbo-sayur-protein hewani-nabati sebanyak 2 kali
- Pada usia 10-12 bulan ASI sesuka bayi, puree buah 1 kali, makanan tim karbo-sayur-protein hewani-nabati sebanyak 3 kali, makanan selingan 1-2 kali
Referensi :
Apriadji, Wied Harry. 2006. Variasi Makanan Sehat Bayi. Jakarta : Puspa Swara
Apriadji, Wied Harry. 2012. Buku Super Lengkap : Makanan Bayi Sehat Alami. Jakarta : Pustaka Bunda.
Pratiwi, I Gusti Ayu Nyoman. 2011. Anak Sehat : 100 Solusi dr. Tiwi – Panduan Lengkap Kesehatan Bayi 0-24 Bulan. Jakarta : Penerbit Erlangga
Panduan MP-ASI (WHO)
MP-ASI yang baik adalah kaya energi, protein, mikronutrien, mudah dimakan anak, disukai anak, berasal dari bahan makanan lokal dan terjangkau, serta mudah disiapkan. Banyaknya kasus kurang gizi di dunia, terutama kasus kurang protein, zat besi dan vitamin A; telah mendorong WHO sebagai badan kesehatan dunia untuk memperbaharui beberapa prinsip penting di tahun 2010 untuk panduan pemberian makan bagi bayi dan anak, yang dikenal dengan prinsip AFATVAH :
Age : MP-ASI diberikan saat bayi berusia 6 bulan berdasarkan kesiapan pencernaan bayi. Resiko pemberian mp-asi dini sebelum usia 6 bulan sudah dibahas di Bab 1. Pemberian mp-asi telat bulan dapat menyebabkan bayi tidak mendapat cukup nutrisi, sehingga mengalami defisiensi zat besi, tumbuh kembang yang terlambat.
Frequency : frekuensi pemberian makan.
Di awal mp-asi diberikan 1-2 kali;
seterusnya usia 6-9 bulan diberikan 2-3 kali makan sehari ditambah 1-2 x cemilan;
usia 9-12 bulan 3 x makan dan 2x cemilan.
Amount : banyaknya pemberian makanan.
Di awal mp-asi berikan sebanyak 2-3 sdm dewasa per porsi makan;
usia 6-9 bulan bertahap mulai dari 3 sdm dewasa hingga 125 ml per porsi makan;
usia 9-12 bulan bertahap dari 125 ml hingga 250 ml per porsi makan.
Texture : tekstur makanan, berdasarkan panduan WHO terbaru ini bayi langsung diberi puree/bubur halus (lembut) tapi semi kental. Patokan kekentalan dilihat dari makanan yang tidak langsung tumpah ketika sendok dibalik. Kekentalan berbanding lurus dengan banyaknya asupan kalori dan nutrisi.
Setelah mulai makan beberapa minggu sampai usia 9 bulan, tekstur lebih kental berupa bubur saring yang lebih bertekstur daripada bubur halus/lembut.
Mulai usia 9 bulan sudah bisa makanan yang dicincang halus, tidak keras dan mudah dijumput oleh anak.
Diharapkan mulai usia 1 tahun anak sudah bisa makan makanan keluarga.
Variety : variasi keberagaman makanan diberikan sejak awal pemberian mp-asi terdiri dari karbohidrat, protein nabati (kacang-kacangan), protein hewani, sayuran dan buah, serta sumber lemak tambahan. Keberagaman makanan diperlukan untuk keseimbangan antara masukan dan kebutuhan gizi karena tidak ada 1 jenis makanan yang memiliki semua unsur gizi yang dibutuhkan. Dengan mengonsumsi makanan yang beranekaragam, kekurangan zat gizi pada jenis makanan yang satu akan dilengkapi oleh zat gizi jenis makanan lainnya, sehingga diperoleh masukan zat gizi yang seimbang.
Untuk perkenalan awal mp-asi, paling lama 2 minggu pertama disarankan dikenalkan bubur dan pure buah tunggal (dari satu jenis bahan) dengan frekuensi makan 1-2 kali sehari. Masa pengenalan ini digunakan untuk pengenalan variasi sumber karbohidrat, sayuran dan buah.
Paling telat minggu ketiga sudah harus dikenalkan aneka protein, baik protein hewani maupun protein nabati, dan sumber lemak tambahan dalam bentuk bubur halus/saring yang diberikan bersama dengan karbohidrat dan sayuran dengan frekuensi makan 2-3 kali sehari dan mulai dikenalkan 1 kali cemilan/makanan selingan.
Prinsip variasi keberagaman ini menjadi dasar atau panduan menyusun menu harian, untuk mudahnya mari kita sebut sebagai panduan 4 bintang yang harus memenuhi tiga fungsi makanan (disebut juga sebagai tri guna makanan : zat tenaga, zat pembentuk dan zat pengatur). Selalu sertakan 1 bahan makanan dari setiap kelompok jenis makanan (kelompok bintang) dalam menu harian MP-ASI dan makanan keluarga yang terdiri dari :
* Sumber hewani sebagai sumber pembentuk sel tubuh dan sumber zat besi (memenuhi fungsi zat pembentuk)
** Sumber karbohidrat dikenal sebagai makanan pokok sumber penghasil energi (memenuhi fungsi zat tenaga)
*** Kacang-kacangan sebagai sumber protein nabati dan mineral zat besi (memenuhi fungsi zat pengatur)
**** Sumber vitamin A dari sayuran dan buah (memenuhi fungsi zat pengatur)
***** Lengkapi dengan unsur penunjang yaitu sumber lemak tambahan untuk menambah kalori
Terkait dengan keberagaman bahan makanan, jika orang tua memiliki riwayat alergi terhadap makanan tertentu, ada baiknya melakukan “tunggu 2-3 hari” saat mengenalkan makanan baru pada bayi, khususnya makanan pemicu alergi pada orangtuanya. Jika tidak ada riwayat alergi dalam keluarga, disarankan memberikan variasi makanan setiap harinya agar anak mendapatkan variasi nutrisi sejak awal pemberian mp-asi.
Makanan pemicu alergi pada umumnya : telur, ikan laut, kacang-kacangan, beberapa buah-buahan golongan berry, tomat, jeruk dan jambu biji.
Active/responsive : saat memberi makan, respon anak dengan senyum, jaga kontak mata, kata-kata positif yang menyemangati. Beri makanan lunak yang bisa dipegang untuk merangsang anak aktif makan sendiri.
Hygiene : menyiapkan dan memasak makanan secara higienis. Pastikan makanan bebas patogen, tidak mengandung racun/bahan kimia berbahaya, cuci bersih, masak dan simpan dengan baik, cuci tangan ibu dan bayi sebelum makan.
Referensi:
http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=4&ved=0CD0QFjAD&url=http%3A%2F%2Flontar.ui.ac.id%2Ffile%3Ffile%3Ddigital%2F125830-S-5822-Hubungan%2520pengetahuan-Literatur.pdf&ei=-bJ7Uv65AoKqrAez74HIAQ&usg=AFQjCNEY6Ku-lvkBUC4M8DSnMfwNo2mMfg&bvm=bv.56146854,d.bmk
Departemen Kesehatan. Pedoman Umum Gizi Seimbang.
Modul Kelas Edukasi Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI), AIMI.
UNICEF, Booklet Pesan Utama Pemberian Makanan Bayi dan Balita, Paket Konseling, AIMI 2012
UNICEF, Materi Peserta, Modul Pemberian Makan Bayi dan Balita dan Pendamping ASI, AIMI 2012
Welcome to HHBF (Homemade Healthy Baby Food)
Ada panduan mpasi-WHO bagi yang ingin mulai mpasi dengan menu karbo lengkap dengan sayuran dan protein nabati maupun hewani (lengkap penjelasan berapa porsi dan frekuensi pemberian) dan ada panduan mpasi adaptasi food combining (FC/pengenalan bertahap) bagi yang ingin mulai mpasi dengan buah. Di dalam panduan mpasi -food combining lengkap dijelaskan buah apa aja yang aman dikonsumsi sejak 6m.
Panduan mpasi-WHO yang terbaru : Semua jenis bahan makanan dikenalkan sejak 6m, karbo lengkap dengan sayuran, protein nabati dan hewani, buah, termasuk sumber lemak tambahan seperti santan, minyak dan mentega, serta kaldu. Tekstur makanan yang dianjurkan adalah semi kental yaitu ketika sendok dibalik makanan tidak langsung tumpah. Kekentalan menunjukkan semakin banyak nutrisi. Secara teori panduan WHO tidak ada aturan 4 DR (4 day rules) lagi.
Untuk perkenalan awal mpasi, paling lama 2 minggu pertama dikenalkan bubur tunggal dan puree buah tunggal. Frekuensi makan 1-2x sehari.
Paling telat minggu ketiga sudah dikenalkan bubur halus/saring lengkap karbo + sayuran + protein hewani dan nabati + lemak tambahan.
Frekuensi makan 2-3x sehari, ditambah 1x makanan selingan.
Frekuensi makan 2-3x sehari, ditambah 1x makanan selingan.
PANDUAN MP-ASI WHO
http://razqa05.blogspot.com
http://razqa05.blogspot.com
Panduan mp-asi adaptasi food combining (pengenalan bertahap) dimulai dengan buah 6m. Usia 7m lanjut dikenalkan karbo, sayuran, protein nabati (kacang-kacangan). Pengenalan protein hewani, termasuk kaldu dan sumber lemak tambahan minyak/santan/mentega/margarin di 8m.
Panduan MP-ASI Adaptasi Food Combining/FC (Pengenalan Bertahap)
http://razqa05.blogspot.com
http://razqa05.blogspot.com
Mau pilih panduan WHO ataupun adaptasi food combining (pengenalan bertahap) tetap konsulkan dulu dengan dsa nya, cek riwayat kenaikan BB per bulan, riwayat alergi dll.
Anjuran WHO untuk segera mengenalkan protein hewani dan nabati (kacang-kacangan) serta sayuran di awal mpasi didasari oleh banyaknya kasus kurang gizi di dunia (kurang zat besi, kurang protein, kurang vitamin A) terutama di negara berkembang. Kurang gizi dapat menghambat tumbuh kembang anak, pertumbuhan BB dan TB anak tidak optimal. Pemberian mp-asi lengkap dengan protein sejak awal mp-asi dimaksudkan untuk mengcover kebutuhan aneka nutrisi sejak mp-asi.
Pemilihan mau ikut panduan WHO atau pengenalan bertahap (buah 6m, karbo + sayur 7m, plus hewani 8m) sepenuhnya diserahkan pada masing-masing ibu karena hanya tiap ibulah yang paham kondisi anaknya, kami HHBF hanya berbagi bahwa ada panduan apa saja, bagaimana panduannya dll. Silakan dipahami masing-masing panduannya ya
Hhbf tidak menyarankan mpasi dengan bubur kemasan ataupun biskuit (makanan instan).
Langganan:
Postingan (Atom)